Petani ini Menanam Porang Sudah Ditawar 825 Juta Minta Rp 1.2 M

Petani ini Menanam Porang Sudah Ditawar 825 Juta Minta Rp 1.2 M

Bagi warga Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Madiun, tanaman Porang bukan lagi sebagai tanaman liar yang tidak berguna, tetapi tambang emas yang menjanjikan kekayaan melimpah.

Purnama, Kepala Desa Durenan memiliki sekitar 2,8 hektar lahan porang. Dengan penuh semangat ia menanam 38.000 pohon porang.

“Ini sudah ada yang menawar Rp 825 juta, tapi saya minta Rp 1,2 miliar. Diperkirakan ada 38.000 pohon. Satu pohon bisa menghasilkan 4 kg dan saat ini harganya per kilogram Rp 10.000. Semuanya bisa laku seharga $ 1,5 miliar. ”

Tanaman Porang itu Mudah tumbuh, Tapi Butuh Modal Lumayan

Diakui Purnama, menanam porang cukup mudah. Namun modal awal untuk membeli bibit porang cukup mahal.

Menurut dia, dibutuhkan modal sekitar 55 hingga 60 juta rupiah untuk membeli benih di lahan seluas satu hektare. Namun, menurut Purnama, petani bisa mendapatkan penghasilan lebih dari 300 juta rupiah saat panen raya.

“Bahkan di sebelah rumah saya, dia membeli bibit seharga Rp 12 juta, sedangkan hasil panennya dijual Rp 55 juta,” jelasnya.

Purnama juga mengaku selama menjadi petani porang bisa merasakan hasilnya. Dia bisa membeli setidaknya dua mobil dan lima sepeda motor juga mampu membangun rumah.

Tanaman Porang yang Dulunya Liar, Kini Jadi Tambang Emas

Petani porang lainnya, Muzino, 56, warga Desa Durenan, mengaku mulai menanam porang 27 tahun lalu.

Pada saat itu, porang hanyalah tanaman liar dan itu tidak sepadan, katanya.

Tetapi banyak hal telah berubah dalam sepuluh tahun terakhir. porang menjadi incaran dan bisa menguntungkan petani.

Baca Juga:  Tanaman Porang, Modal 300 Juta Bisa Dapat 3 M ! Apa itu Porang dan Cara Budayanya ?

“Saya sudah menanam porang sejak 1994, tapi harganya masih 2.000 rupiah per kilo saat itu,” kenang Muzino.

Muzino kemudian mengatakan bahwa dia pada awalnya adalah seorang petani porang dengan bermodalkan keringat dan memiliki tekad.

Saat itu, dia mencari bibit porang di hutan di lereng Gunung Willis, tak jauh dari kampung.

“Saya tidak punya modal. Saya mencari bibit langsung di hutan,” jelasnya.

Setelah menerima bibit, Mujiono menanamnya di lahan seluas 10 x 20 meter.

Seiring waktu, tanahnya menjadi setengah hektar dan 4.900 pohon porang ditanam.

“Hingga 2015, kami bisa mendapatkan Rp 35-36 juta untuk setiap panen,” kata Mujiono.

Ia mengatakan dengan bercocok tanam porang, ia bisa membeli tanah dan biaya sekolah untuk anak-anaknya.

“Saya membeli tanah, sekarang saya punya delapan bidang tanah, saya tanami porang semuanya. Saya menghabiskan sebagian uang untuk membangun rumah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *